Kamis, 06 November 2025

Kesaktian Nay Subang Larang Terhadap Peradaban Subang.

https://www.instagram.com/reel/DQigzDNE4sp/?igsh=MWV6bDl2bjNkYW9nOQ==






Jauh sebelum melesatnya perkembangan zaman, kabupaten Subang sudah menapaki peradaban-peradaban kehidupan dalam berbagai aspek, utamanya adalah aspek religi. Hal ini dapat diamati dari beberapa karakteristik yang telah ada dan terus diteliti, antara lain adanya jejak situs dan artefak bersejarah peninggalan masa lampau di wilayah sekitar Subang. Begitu pula dengan pada masa penyebaran agama Hindu dan Islam pada zaman. Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu sendiri, wilayah Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran. Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di luar kawasan Nusantara. Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati) membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan dengan wilayah yang jauh. 

Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut, wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda. Begitupun dengan pada saat berkembanganya Kebudayaan Islam, Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok Subang. Tapi jauh sebelum itu, dalam aspek keagamaan sangat erat kaitannya dengan situs yang terdapat di salah satu daerah Kabupaten Subang yaitu Situs Nay Subang Larang yang berada di Teluk Agung, Desa Nanggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang. Jarak desa ini ke kota Subang lebih kurang 30 km dan memiliki wilayah seluas 403, 68 hektar, dengan luas area darat 93, 68 hektar dan pesawahan 310 hektar, berada pada ketinggian 350 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 135 mm per tahun. Situs ini menjadi asumsi serta hipotesis khalayak ramai yang kian dibincangkan. Beberapa pernyataan menorehkan terkait toponomi kata ‘Subang’ berasal dari tokoh wanita pertama yang ikut serta dalam penyebaran agama Islam di wilayah Pajajaran. Ia adalah Kubang Kencana Ningrum atau kerap dikenal dengan Nay Subang Larang. (Fauzan, Nugraha. M.L 2020).

Penyongsong utama keyakinan mengenai situs Nyai Subang Larang yang berangsur lama adalah bukti tertulis dalam Cerita Purwa Caruban Negeri (CPCN) karya Pangeran Arya Cirebon pada tahun 1720 yang ditulis menggunakan bahasa dan aksara (abjad) Jawa Cirebon, yang menurut (Permana, 2012) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pangeran Sulendraningrat yang merupakan sejarawan sunda hingga menjadi sejarah lisan yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi serta berkaitan erat dengan segala elemen kehidupan masyarakat Pajajaran. Dalam CPCN tersurat informasi yang menjadi sumber dan rujukan utama dalam penelitian Arkeologisme pra sejarah yang dilakukan dari berbagai daerah, diantaranya adalah latar dan asal muasal Nay Subang Larang. Tercatat dalan naskah kuno tersebut nama asli dari Nyai Subang Larang adalah Kubang Kencana Ningrum yang lahir sebagai teureuh sunda pada tahun 1404 dari seorang ayah Ki Gedeng Tapa yang merupakan raja di Kerajaan Singapura sekaligus kepala pelabuhan Muara Jati dan sang Ibu Nyi Ratna Karancang. 

Situs ini mulanya ditemukan pada 1979 dan 1981 oleh Abah Roheman selaku warga setempat daerah Nanggerang. Ditemukannya cikal bakal situs ini memicu antusiasme yang tinggi dari berbagai penjuru daerah, salah satunya adalah dibentuknya Tim Peneliti Situs Nay Subang Larang yang terbaur langsung dengan Dinas Pendidikan dan Kebdayaan Subang pada tahun 2013 atas keikutsertaan para ahli arkeologi dan dipimpin oleh Dr. Luthfi yondri, M.Hum. Rasa atusiasme ini akhirnya menggelora pada puncaknya pada tahun 2013 dengan ekskavasi perdana hingga berlanjut pada tahun 2016 dan 2018 serta kembali pada 2019. Ekskavasi akhirnya membuahkan hasil, ditandai dengan keberhasilan upaya ekskavasi pertama atas ditemukannya kerangka manusia utuh dan 3 kerangka lagi pada tahun 2018. Tim arkeolog menyimpulkan bahwa kerangka manusia tersebut berasal dari era tahun 45 SM atau abad ke-1 SM (Wikipedia).

Kerangka manusia purba tersebut diduga berasal dari rumpun Austronesia atau Bunian.Ketua Tim ekskavasi Situs Nay Subang Larang yaitu Luthfi (2016) menerangkan bahwa kerangka manusia tersebut termasuk ras Austronesia yang bermigrasi ke Asia daratan menuju Indonesia lewat teori out of Taiwan dengan membawa budaya asalnya. Menurut bapak Sanjaya selaku penjaga situs Subang Larang mengatakan bahwa para tim ekskavasi juga menemukan bercak peradaban manusia terdahulu lainnya berupa manik-manik, logam serta beberapa kerangka manusia pada kedalaman 40 cm. Salah satu kerangka tersebut ditemukan dalam kondisi utuh dan lengkap anatominya. Di sisi kaki kerangka, terdapat senjata dan pisau kapak serta batu yang diduga untuk mengasah dan berburu. Uniknya, pada beberapa bagian kerangka ditemukan manik-manik secara menyebar yang terbuat dari bahan batuan kaca dan logam mulia. 

Pernyataan yang dikemukakan oleh petani lokal bernama pak Abdul sekitar Nanggerang pada Jum’at, 24 Oktober 2025 bahwa terdapat hipotesis terkait tradisi unik budaya prosesi pengurusan dan penguburan jenazah manusia pra sejarah bahwa diletakkannya logam mulia peninggalan mayit semasa hidup di berbagai bagian tubuh jenazah-utamanya di bagian wajah. Hal ini menjadi daya tarik dan acuan baru dalam pembahasan atas tuturan hidup yang mengikat peradaban purbakala. Hal ini dapat dikaitkan dengan banyaknya temuan-temuan logam mulia oleh warga setempat hingga saat ini di sekitar Sungai Cipunagara. Logam mulia tersebut berupa kepingan-kepingan yang sudah tidak dalam kedaaan yang utuh. Sungai Cipunagara yang mengitari kawasan Situs Nay Subang Larang memiliki dugaan kuat sebagai perantara utama yang menjembatani Nay Subang Larang dari Pesantren Quro di daerah Pura, desa Talagasari, Karawang yang didirikan oleh Syekh Hasanudin atau lebih dikenal dengan nama Syekh Quro hingga menuju ke Muara Jati pada tahun 1420 melalui perairan tatar sunda. Nay Subang larang Kembali ke Muara Jati setelah menyandang gelar ‘Subang Larang’ dari gurunya-Syekh Quro, yang bermakna pahlawan berkuda kepadanya karena telah menuntaskan perjalanan belajar ilmu-ilmu agama selama 2 tahun lamanya. Tepat pada tahun 1420, sang Ayah-Ki Gedeng Tapa mengadakan kompetisi pertarungan prajurit, bahwa pemenang berhak menikahi Subang Larang, putrinya. Dalam kompetisi, Raden Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi muncul sebagai pemenang serta berhak menikahi Subang Larang setelah menerjang lawan terkuatnya yaitu Amuk Marugul, putra Prabu Susuk Tunggal (kerajaan sunda). Sedangkan, sumber lainnya menguak alasan terpikatnya Raden Pamanah Rasa terhadap Nay Subang Larang setelah terdengarnya merdu bahana Nay Subang Larang ketika membaca Al Quran di pesantren Syekh Hasanuddin (Pranata 2021).

Masyarakat pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai tradisi dari leluhurnya dan budaya yang turun dari generasi satu ke genarasi seterusnya. Oleh karena itu, ketika nilai-nilai tradisi yang ada pada masyarakat terserabut dari akar budaya lokalnya, maka masyarakat tersebut akan kehilangan identitas dan jati dirinya, sekaligus kehilangan pula rasa kebanggaan dan rasa memilikinya. Betapa besarnya kedudukan dari nilai-nilai kearifan lokal menurut Wuryandari (dalam Fauzan, Nugraha. M. L. 2020) menjelaskan karena peran dan fungsi kearifan lokal diantaranya adalah: 

(1) Untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.

(2)  Pengembangan sumber daya manusia.

(3) Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

(4) Sebagai sumber petuah/kepercayaan/sastra dan pantangan.

(5) Sebagai saran untuk membangun integrasi komunal.

(6)  Sebagai landasan etika dan moral.

(7)  Fungsi politik.

Di lain sisi, dapat dilihat fungsionalitas situs Nyai Subang larang ini menjadi daya tarik desa Nanggerang terhadap persepsi khalayak ramai untuk dapat mengunjungi situs yang kian diteliti oleh lembaga-lembaga arkeolog.  Bukti nyata tergambar dari aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar yang senantiasa merawat dan melestarikan keberadaan situs Nay Subang Larang. Kegiatan tersebut meliputi pembersihan area makom, penyelenggaraan kegiatan religi seperti ziarah dan tawassulan. Dalam kacamata bahasa, tawassul berarti memanjatkan permohonan ataupun doa kepada Allah Swt melalui perantara nama seseorang yang dianggap dekat dan suci kepada Tuhan. Selain itu antusiasme tampak atas partisipasi yang tinggi dari peran warga lokal sebagai pemandu wisata religi maupun penjaga situs yang berfungsi menjaga keamanan dan kesakralan situs Nay Subang Larang. Terdapat tata aturan dalam pelaksanaan ziarah yang tertera di situs Nay Subang Larang, di antaranya:

  1. Wajib Lapor kepada pengurus situs Nay Subang Larang.
  2. Wajib pengisi buku tamu.
  3. Pelaksanaan tawassul diwajibkan memakai imam dari Subang Larang.
  4. Jika menginap di situs, wajib menyertakan kartu identitas kepada pengurus situs Nay Subang Larang. 

Situs Nay subang larang menjadi saksi revolusi sejarah penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Setiap objek dan struktur arsitektual yang ada, menyimpan historis nilai spiritual yang tinggi. Kini, kawasan situs telah berkembang menjadi wisata religi dengan fasilitas yang ditata untuk menunjang aktivitas yang berlangsung di situs itu sendiri. Fasilitas yang menjadi bagian dalam ruang lingkup situs mencakup fasilitas utama dan pendukung. Dalam fasilitas utama, meliputi:  

  1. Makom Nay Subang Larang
  2. Makam Eyang Kertiwangsa
  3. Sedangkan, fasilitas penunjang lainnya, yaitu:
  4. Tempat wudhu.
  5. Tempat menginap/mushola
  6. Tempat parkir.
  7. Kamar mandi.

Pada kawasan sekitar situs juga terdapat sumur kahuripan leuwi jati yang diduga menjadi sumber mata air utama pada perdaban masyarakat terdahulu. Hingga kini sumur timba tersebut masih senantiasa digunakan oleh masyarakat Nanggerang. Tersedianya fasilitas-fasilitas tersebut menjadi perantara terciptanya jati diri seorang pewaris budaya akan budayanya sendiri.

Sebagai kawasan yang hingga kini menjadi media pelestarian budaya, situs Nay Subang Larang turut serta dalam tranportasi nilai-nilai yang penting yang diwariskan dari tokoh muslimah pertama Islam pertama di Jawa Barat-Nay Subang Larang, nilai-nilai kehidupan tersebut meliputi pesan moral, ikatan sosial dan watak dari Nay Subang Larang.  Nilai-nilai tersebut meliputi:

Nilai Agama yang dimiliki Subang larang seperti tekun dalam belajar agama dan berbakti kepada keyakinan seutuhnya.

Nilai-nilai budaya, Subang Larang senantiasa menyisipkan budayanya dalam upaya penyebaran agama islam yang ia lakukan.

Nilai-nilai toleran, Subang Larang mahir dalam proses adaptasi meski berada dalam perbedaan agama yang dianut oleh suaminya. Subang larang pula menjadi penyongsong kaum Perempuan dalam menjaga ikatan dengan agamanya sebagai pondasi fundamental hidup seorang manusia.

Nilai patuh dan berbakti kepada orang tua. Nyai Subang Larang menunjukkan nilai ini kala sang ayah memerintahkannya untuk pergi belajar dengan Syekh Quro di Karawang. Kemudian, Nay Subang Larang mematuhi dan pergi belajar selama kurang lebih 2 tahun untuk mempelajari Islam di Pesantren Quro.  

Jika dilihat dari masa kini, keberadaan situs Nay Subang Larang tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga warisan nilai yang masih hidup dan berpengaruh hingga saat ini. Dampaknya mencakup berbagai aspek, dari yang mulai tumbuh hingga berakar yang tergambar secara kerdil di padanan hidup masyarakat. Dengan pelestarian yang berkelanjutan, situs dan nilai-nilai Subang Larang dapat terus menjadi sumber inspirasi dan rujukan dalam memperkuat identitas lokal serta menjaga kesinambungan warisan budaya bangsa. Selain itu, figur Subang Larang juga representasi integrasi antara budaya Sunda dan nilai-nilai religi islam. Nay Subang Larang berperan pentingdalam pembentukan identitas sosial masyarakat Subang. Tradisi penghormatan terhadap beliau diwujudkan dalam bentuk upacara adat, kegiatan budaya, serta ekspresi seni seperti pertunjukan tari, tembang, dan ritual ziarah tahunan. Tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga menjadi instrumen pemersatu sosial yang mengokohkan rasa kebersamaaan. 

Secara tidak langsung pula mengikat jiwa kebersamaan di antara masyarakat dalam berbagai berbagai aktivitas ritual religi yang berlangsung. Berdasarkan pernyataan oleh petani lokal Nanggerang, terdapat fakta menarik yang jarang diketahui oleh khalayak ramai, yaitu tradisi budaya manusia pra sejarah terkait prosesi pengurusan dan pemakaman jenazah. Fakta ini terkuak pada 22 Oktober 2025, bahwa temuan artefak manusia pra sejarah zaman bunian pada tahun 2016 yang terdapat logam mulia secara menyeluruh di berbagai bagian rangka dapat dikaitkan dengan budaya pemakaman jenazah yang meletakkan logam mulia peninggalan jenazah tersebut langsung bersamaan dengan sang layon. Fakta ini menjadi acuan baru penelitian yang actual dalam planning tim sejarawan. 

Dalam esensi sejarah, Nay Subang Larang tidak hanya menjadi tokoh muslimah pertama di tatar sunda. Namun sebagai tokoh revolusi sejarah dalam aspek religi. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, budaya berarti cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi namun tidak turun temurun. Kondisi geografis amat berpengaruh pada kebiasaan hidup masyarakat. Proses akultrasi budaya di kabupaten terkesan unik dan senantiasa ada batas diferensial dari satu masa ke masa yang lain. Sebagai wilayah yang berada di dataran rendah dengan ketinggian 0-50 meter di atas permukaan laut, desa Nanggerang memiliki potensi di bidang pertanian sekaligus salah satu lumbung padi di kabupaten Subang, mata pencaharian utama sebagai petani. Hal ini berkesinambungan erat dengan gurat sejarah dalam situs Nay Subang Larang yang tercatat pada berbagai sumber, termasuk pada pernyataan bapak Sanjaya selaku pemilik lahan. Artefak dan objek Nay Subang Larang pertama kali ditemukan potensinya oleh petani lokal Nanggerang. Pada awalnya, cikal bakal situs diduga karena temuan manik-manik yang terbuat dari logam ataupun bebatuan. Seiring perkembangan zaman, kontras kemudahan proses ekskavasi akhirnya menemukan celah pencerahan. 

Hingga kini, temuan yang berhasil temukan dikemas rapih dalam ruang pelestarian budaya subang-museum Wisma Karya Subang. Menurut Akbar (2010, halaman 3), museum merupakan lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa menurut Pemerintah Republik Indonesia (Peraturan pemerintah Nomer 19 tahun 1995 tentang permuseuman). Sejak tahun 2003, Museum Wisma Karya Subang terus menyimpan berbagai temuan arkeologisme bersejarah, termasuk replika kerangka manusia pra sejarah yang ditemukan di Situs Nay Subang Larang yang disimpan dalam ruang museum bagian (hole) A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesaktian Nay Subang Larang Terhadap Peradaban Subang.

https://www.instagram.com/reel/DQigzDNE4sp/?igsh=MWV6bDl2bjNkYW9nOQ== Jauh sebelum melesatnya perkembangan zaman, kabupaten Subang sudah men...